• Minggu, 3 Juli 2022

Kapolri Jalankan Perintah Presiden Kedepankan Langkah Edukasi dan Persuasif dalam Perkara ITE

- Jumat, 10 Desember 2021 | 11:53 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (PRFM News - Pikiran Rakyat)
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (PRFM News - Pikiran Rakyat)

HALO PELAJAR- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan bahwa ia memahami adanya kegelisahan masyarakat terhadap sanksi pidana dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Perkembangan industri 4.0 juga menuntut kita untuk mengantisipasi beberapa isu HAM. Saya memahami adanya kegelisahan dan kekhawatiran masyarakat sanksi pidana dalam UU Informasi dan Transaksi Elektronik, UU ITE," kata Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta, Jumat dilansir dari Antara.

Presiden Jokowi menyampaikan hal tersebut dalam Peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia Tahun 2021 yang dihadiri oleh para menteri kabinet Indonesia Maju antara lain Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly, Menteri Sekretaris Negara, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Ahmad Taufan Damanik serta para pejabat terkait lainnya.

Baca Juga: Purwakarta Raih Lima Penghargaan di Festival Tunas Bahasa Ibu 2021 Jenjang SMP Tingkat Jawa Barat

"Kapolri telah untuk menindaklanjuti perintah yang saya instruktsikan untuk mengedepankan langkah-langkah edukasi dan persuasif dalam perkara ITE. Jangan ada kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat," ungkap Presiden.

Presiden Jokowi menyebutkan atas dukungan DPR, ia telah memberikan amnesti terhadap Baiq Nuril dan Saiful Mahdi yang divonis melanggar UU ITE.

"Namun saya juga ingatkan kebebasan berpendapat harus dilakukan secara bertanggung jawab kepada kepentingan-kepentingan masyarakat yang lebih luas," tambah Presiden.

Presiden Jokowi melalui Keputusan Presiden (Keppres) memberikan amnesti (pencabutan pemidanaan) kepada Baiq Nuril pada 29 Juli 20219. Baiq Nuril yang merupakan staf honorer di SMAN 7 Mataram sebelumnya dihukum 6 bulan penjara dan denda Rp500 juta karena dijerat UU ITE dalam kasus penyebaran informasi percakapan mesum kepala sekolah tempat ia pernah bekerja.

Selanjutnya Presiden Jokowi menandatangani keppres pemberian amnesti pada 12 Oktober 2021 bagi dosen Universitas Syiah Kuala Saiful Mahdi yang divonis 3 bulan penjara dan denda Rp10 juta subsider satu bulan kurungan karena disebut melakukan pencemaran nama baik yaitu mengkritik proses penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di tempatnya bekerja.

Halaman:

Editor: Fajar Maritim

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kasus Pemukulan Wasit, Polisi Tetapkan Enam Tersangka

Senin, 27 Desember 2021 | 14:40 WIB

Buronan Teroris Bom Katedral Sulsel Ditangkap Densus 88

Selasa, 14 Desember 2021 | 04:17 WIB

Ini Daftar 151 Pinjol Ilegal yang Telah Diblokir OJK

Minggu, 24 Oktober 2021 | 14:25 WIB

Terpopuler

X